Pekanbaru, 21-24 Desember 2014
Tuah Sakti Hamba Negeri, Esa Hilang Dua Terbilang, Patah Tumbuh Hilang Berganti, Tak Melayu Hilang di Bumi
Balai Adat Melayu Riau, di Jalan Diponegoro No. 39 Pekanbaru, Riau, Indonesia.
Ketua Umum DPH LAM Riau Al Azhar bersama penerima Anugerah Budaya DMDI lainnya, di Hotel Hatten, Melaka, 23 Oktober 2014.
Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka Adyaksa Dault saat berkunjung ke LAM Riau, Kamis, 8 Mei 2014
Ketua Umum LAM Riau H Tenas Effendy memberikan cendera mata kepada Ketua DPRD Kepri Ir. H. Nur Syafriadi, M.Si saat berkunjung ke LAM Riau, 28 April-2014
Ketua Umum MKA LAM Riau H Tenas Effendy sebagai pembicara utama pada Conference on Islamic Business, Art Culture and Communication (ICIBACC 2014), Melaka, 26 Agus 2014.

Selasa, 13 Januari 2015

Dua Warga Ditahan Polisi, Warga Sakai Mengadu ke LAM Riau



PEKANBARU-Puluhan massa yang mengaku berasal dari warga Sakai, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis mengadu ke Lembaga Adat Melayu Riau (LAM Riau) berharap lembaga ini bisa memfasilitasi pembebasan dua warganya yang ditahan Kepolisian Daerah (Polda) Riau karena enam tandan sawit milik PT Adei Plantations dan pola KKPA [Kredit Koperasi Primer untuk Anggota] yang tidak terealisasi, Senin (12/01/2015).
Sebelum mengadu ke LAM Riau, warga Sakai yang datang ke Balai Adat Melayu Riau dengan menaiki sedikitnya enam mobil dan satu truk ini melakukan aksi damai dan kesenian tradisional di Mapolda Riau menyampaikan tuntutan pembebasan kedua warganya itu.
Di dalam enam butir pernyataan sikap yang ditandatangani Penanggung Jawab Wan Subantri Arti dan Koordinator Lapangan Moch. Rahmad disebutkan pertama, kami mengharapkan LAM Riau menfasilitasi pembebasan Sdr. Riandi Saputra bin Ramlan dan Erwin bin Nantan yang telah ditahan di Polda Riau harus segera dikeluarkan, karena penahanan tersebut sangat-sangat bertentan gan dengan nota kesepakatan bersama (NKB) yaitu Ketua Mahkamah Agung, Menteri Hukum dan Hak Asdasi Manusia, Jaksa Agung, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia nomor 131/KMA/SKB/X/2012, M.HH-07.HM.03.02, KEP-06/E/EJP/10/2012, B/39/X/2012 Tahun 2012 serta Peraturan Mahkamah Agung Nomor 02 Tahun 2012.
Kedua, mohon kiranya LAM Riau memperjuangkan tanah adat Suku Sakai Kecamatan Pinggir yang dijadikan perkebunan sawit oleh PT Adei Plantations dan melakukan upaya paksa terhadap PT Adei Plantations dalam merealisasikan pola KKPA yang telah disepakati bersama semenjak tahun 2003.
Ketiga, sampai detik ini CSR (Coorporate Social Responsibility) [red, tanggung jawab sosial perusahaan] berdasarkan amanah Undang Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroaan Terbatas dalam Bab V Pasal &$ ayat (1), (2), (3), dan (4), tidak terealisasi terhadap kami.
Keempat, berdasarkan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal dalam Pasal 15 (b) dan Pasal 34 mohon dilakukan pengawasan yang teliti terhadap warga negara asing yang menanam  odal khususnya di Provinsi Riau agar tanah ulayat tersebut tidak dieksplotasi.
Kehadiran puluhan warga Sakai ini diterima langsung oleh Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAM Riau Al Azhar, Ketua DPH Anas Aismana, Sekretaris Tarlaili Datuk Bandaro, dan anggota Bidang Humas Zul Azhar, di Balai Adat Melayu Riau.
Menurut Ketua Umum DPH LAM Riau Al Azhar mengatakan LAM Riau sebelumnya telah menerima pemberitahauan mengenai akan adanya penyampaian sikap dari warga Sakai, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis ini ke LAM Riau.
Dia mengatakan apa yang dituntut oleh warga Sakai tersebut menjadi hal yang selama ini diperjuangkan LAM Riau. “LAM Riau senantiasa berjuang untuk keadilan bagi sekalian anak kemenakan,” kata Al Azhar.
Al Azhar menilai selama ini PT Adei Plantations tidak pernah ramai dengan masyarakat. “Kami sangat prihatin atas keluhan tuan-tuan. Secara pribadi maupun kelembagaan bahwa kami akan bersama bapak-bapak dan ibu-ibu untuk memperjuangkan apa yang menjadi tuntutan ini,” kata Al Azhar.
Dia menambahkan adalah suatu kesalahan bagi dia dan pengurus LAM Riau jika tidak memperjuangkan warga Sakai ini. “Kami mempertanyakan mengapa hanya karena enam tandan sawit saja, warga bisa ditahan sebegitu lama,” kata Al Azhar.
Al Azhar berharap Polda Riau bisa memberikan penangguhan penahanan terhadap kedua warga yang ditahan. “Seandainya kami bisa, kamipun tidak apa-apa dan tidak segan-segan bersama keluarga dua warga yang ditahan untuk ikut menandatangani,” papar Al Azhar.
Menyinggung perjuangan tanah adat Suku Sakai Kecamatan Pinggir yang dijadikan perkebunan sawit oleh PT Adei Plantations, Al Azhar mengatakan LAM Riau bisa mengundang manajemen perusahaan tersebut dalam upaya mediasi dengan warga.
“Kami akan mengundang manjemen PT Adei untuk mempertanyakan apa maksud di belakang itu. Jika ingin membuat jera, apakah memang tidak ada cara lain,” kata Al Azhar.
Mengenai program CSR dari perusahaan ini yang disebut warga tidak pernah terealisasi, Al Azhar mengatakan selain sudah menjadi amanat undang undang, mengenai tanggung jawab sosial perusahaan atau yang dikenal dengan sebutan CSR ini sudah ada perdanya. “Kami akan mempertanyakan kepada PT Adei apakah kewajiban CSR-nya sudah dilakukan atau belum,” ujar Al.
Sedangkan mengenai adanya keinginan warga dilakukannya pengawasan yang teliti terhadap WNA yang menanamkan modalnya khususnya di Riau, Al Azhar mengatakan pihaknya akan menindaklanjuti aspirasi ini.
Dia juga mengatakan banyak PMA yang hanya menempatkan semacam penghubung saja di Riau sementara kebijakan bukan diputuskan di sini, dimana berada di Malaysia dalam kasus PT Adei.
“Seluruh pernyataan sikap kami terima kami jadikan beban kami. Kami juga perlu dukungan masyarakat. Untuk diplolasi kami siap berada di depan,” tegas Al Azhar. (Zul Azhar)

Jumat, 02 Januari 2015

Majelis Zikir Ar-ridho Al-Wasliyah Silaturahmi ke LAM Riau


Ketua Umum DPH LAM Riau Al Azhar memberikan cendera mata kepada Majelis Zikir Ar-ridho Al-Wasliya H Buyung Arifin disaksikan Ketua Umum MKA LAM Riau H Tenas Effendy, di Balai Adat Melayu Riau, Kamis (01/01/2014).

PEKANBARU-Sejumlah  pimpinan dan sekitar 160 jemaah Majelis Zikir Ar-ridho Al-Wasliyah, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, melakukan kunjungan silaturahmi ke pengurus Lembaga Adat Melayu Riau (LAM Riau), Kamis (01/01/2015).

Rombongan jemaah Majelis Zikir Ar-ridho Al-Wasliya ini yang dipimpin langsung ketuanya H Buyung Arifin didampingi Ketua Lembaga Adat Melayu Kabupaten Langkat, Sumatera Utara Drs. H. Zainal Arifin Aka, M.Si, M.Pd. Pertemuan silaturahmi yang melibatkan tiga provinsi di Sumatera ini dijembatani oleh tokoh muda Riau yang juga pengurus LAM Riau Bidang Organisasi Kemasyarakatan Khairuddin Al Young Riau.
Kedatangan jemaah Majelis Zikir Ar-ridho Al-Wasliyah di Balai Adat Melayu Riau diterima langsung oleh Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat (MKA) LAM Riau H Tenas Effendy, Ketua Umum DPH Al Azhar, Ketua MKA Drs. HR. Marjohan Yusuf, Anggota MKA. Drs. H. Ali Noer, Lc, Ketua DPH Drs. H. Tengku Lukman Jaafar, Ketua Bidang Agama LAM Riau Tgh. Drs. H. Syafruddin Saleh Sei. Gergaji dan sejumlah pengurus LAM Riau lainnya dan menyambutnya dengan suka cita.
Ketua Lembaga Adat Melayu Kabupaten Langkat Drs. H. Zainal Arifin, M. Si  mengatakan merasa bahagia bisa berkunjung dan bertemu dengan para tokoh adat Melayu Riau.
Zainal pada kesempatan tersebut sedikit memaparkan sejarah Aceh Tamiang, yang dulunya pernah menjadi bagian dari Kerajaan Langkat. Sementara Kerajaan Langkat, pernah takluk kepada Kerajaan Siak.
Dia juga memaparkan beberapa hal yang telah dilakukan dalam mempertahankan adat dan budaya Melayu Langkat seperti dengan menulis buku-buku yang berkaitan dengan adat dan budaya Melayu. “Saya sendiri sudah menulis sekitar 18 buku yang berkaitan dengan adat dab budaya Melayu Langkat,” kata budayawan Melayu Langkat..
Selain itu, dia bersama sejumlah tokoh Langkat lainnya telah mendirikan Yayasan Warisan Melayu Langkat dalam upaya melestarikan adat dan budaya Melayu di Langkat.
Menurut Zainal, Langkat merupakan negeri Melayu, sayangnya orang Melayu belum menjadi tuan di negeri sendiri. “Kami ingin mencontoh LAM Riau karena mampu menjadikan anak Melayu menjadi tuan di negerinya sendiri,” kata Zainal.
Ketua Majelis Zikir Ar-ridho Al-Wasliyah, Kabupaten Aceh Tamiang H Buyung Arifin mengatakan sudah lamanya dirinya berkeinginan  untuk berkunjung ke LAM Riau.
“Saya pernah menjadi karyawan Pertamina dan bertugas di Pekanbaru. Dari Hotel Aryaduta saya selalu melihat ke arah Balai Adat Melayu Riau ini,” kata Buyung.
Dia mengatakan Majelis Zikir Ar-ridho Al-Wasliyah yang dipimpinnya telah banyak melakukan kegiatan di Aceh Tamiang seperti menggelar majelis zikir sampai di seluruh kabupaten di Aceh Tamiang. “Selain itu, kami juga melakukan kunjungan ke luar Aceh Tamiang seperti ke Jakarta, Singapura, termasuk ke Siak dan Pekanbaru ini,” kata Buyung.
Ketua Bidang Agama DPH LAM Riau Syafruddin Saleh Sei. Gergaji mengatakan hubungan sejarah sudah sejak lama terbina antara Riau terutama Siak dengan Aceh Tamiang di Aceh dan Langkat di Sumatera Utara. “Apalagi hubungan sebagai sesama muslim yang perlu lebih dipererat kembali,” kata Syafruddin.
Ketua DPH LAM Riau pada kesempatan tersebut memaparkan sejarah singkat berdirinya LAM Riau 44 tahun silam tepatnya pada 6 Juni 1970 pada masa Gubernur Riau dijabat anak jati Riau Arifin Achmad.
Salah satu upaya yang dilakukan LAM Riau adalah untuk membangkitkan ‘batang terendam’ adat dan budaya Melayu yang telah diwariskan oleh para pendahulu.
“Kami berupaya bagaimana ‘batang terendam’ yang sudah bangkit itu bisa dimanfaatkan bagi kemajuan dan kemashalatan masyarakat khususnya masyarakat  Melayu di Riau ini,” kata Al Azhar.
Al Azhar juga menjelaskan LAM Riau yang bersifat konfederasi dimana LAM Riau bertugas mengkoordinasikan LAM Riau yang ada di kabupaten kota. “LAM Riau bersifat konfederasi karena praktik adat di kabupaten/kota di Riau tidak homogen,” jelasnya.
Menurut budayawan Riau ini, ada empat sungai besar di Riau yaitu Sungai Indragiri, Sungai Kampar, Sungai Rokan, dan Sungai Siak dimana masing-masing daerah memiliki adat dan tradisi yang bervariasi.
Namun demikian, meskipun masing-masing kerajaan punya adat resamnya sendiri-sendiri ada satu hakikat yang sama yaitu beragama Islam yang terkenal dengan falsafah adat bersendikan syarak, dan syarak bersendikan kitabullah. (r)